Rabu, 08 September 2010

Fisiologi Reproduksi Wanita

FISIOLOGI REPRODUKSI WANITA

Sistem reproduksi wanita adalah representasi sekaligus bukti tentang
Kemahaperencanaan Allah. Jika hanya satu sistem diciptakan dan dapat berjalan,
mungkin itu masih sebatas wajar. Tetapi jika beberapa sistem dengan fungsi dan struktur
organ yang berbeda dapat bersinergi dan saling mengisi, itu baru hebat. Demikianlah
sistem reproduksi, mulai dari sistem endokrinologi yang mengatur hormon, sistem
persyarafan dan pengambilan keputusan (otak), indung telur, rahim, dan jalan lahir,
semua bersatu bahu-membahu untuk mewujudkan niat yang satu. Niat melahirkan
generasi utama, generasi istimewa: kuntum ghoru ummatin ukhrijat lin nas.




Kelenjar hormon bahu-
membahu bergotong royong untuk
memproduksi hormon reproduksi
secara seimbang dan sesuai waktu.
Maka seorang wanita kemudian
akan mengenal sebuah siklus yang
disebut siklus menstruasi atau
siklus haid. Benih calon pemimpin
ummat yang istimewa juga harus
dipersiapkan secara eksklusif. Dalam 1 bulan sang calon pangeran ini hanya dilepaskan
satu kali saja. Rentang waktu yang tercipta dan siklus hormonal yang berulang ternyata
terkait dengan serangkaian persiapan lain yang bersifat fungsional. Naik turunnya
hormon jadi semacam kalendar yang menentukan kapan seorang wanita menjadi jauh
lebih cerdas untuk belajar. Kapan ? Dari hari terakhir haid sampai pertengahan bulan atau
masa pasca ovulasi. Mengapa ? Karena pada saat itu hormon estrogen, dan LH, serta
sebagian progesteron sedang dalam perjalanan menuju puncak. Perjalanan ini
berimplikasi pada terjadinya optimasi
kapasitas otak dan proses neuroregenerasi
alias pembaharuan sel-sel otak. Kok bisa ?
Ya bisa dong, karena pada sat yang
bersamaan terjadi pula regenerasi sel-sel
dinding rahim sebelah dalam yang disebut
endometrium. Efek stimulasi pertumbuhan
oleh faktor-faktor pertumbuhan bersifat






sistemik alias dialirkan melalui pembuluh darah ke segenap penjuru tubuh. Akibatnya
masa setelah haid sampai puncak ovulasi adalah masa- masa seorang wanita mendapatkan
kesempatan memperbaiki dan memperbaharui diri. Terkadang haid justru disesali karena
dianggap hendaya yang menggangu dan tidak produktif. Tapi bagi sebagian yang
berilmu, haid justru teramat disyukuri, disikapi sebagai nikmat yang sangat berharga bagi
seorang wanita.
Secara anatomi yang termasuk ke dalam sistem reproduksi seorang wanita antara
lain adalah kelenjar-kelenjar hormon mulai dari
hipotalamus, hipofise, sampai dengan ovarium,
lalu organ-organ reproduksi seperti ovarium
(tempat diproduksinya sel telur), rahim, dan jalan
lahir (vagina). Ovarium atau indung telur memang
memiliki peran ganda yang istimewa, yang
pertama ovarium bertindak selaku kelenjar
hormon (estrogen, progesteron) dan yang kedua
ovarium berperan selaku tempat penyimpanan dan
pematangan sel-sel telur. Antara ovarium
dan rahim terdapat saluran telur ( tuba
uterina) yang bertugas menghantarkan telur
yang telah siap dibuahi menuju daerah
tugas barunya, yaitu dinding rahim. Di
saluran telur inilah proses pertemuan antara
sel nutfah pria ( sperma/mani) dengan sel
telur paling mungkin terjadi. Sementara
rahim juga tidak kalah istimewanya,
disanalah proses pembelahan dan
pengorganisasian super ajaib terjadi.
Bayangkanlah sel-sel kecil yang tidak
pernah sekolah itu dengan begitu fasihnya menjalankan fungsi-fungsinya masing-masing





tanpa pernah salah atau keliru ! Ada jutaan sel yang bergabung dan dikembangkan dari
bagian tubuh ibu serta bertugas untuk menjadi bagian sistem suplai makanan dan oksigen
bagi janin. Dan ada milyaran sel yang dikembangkan oleh aloqah untuk kemudian
menjadi mudhigah yang sempurna, dan akhirnya menjadi janin serta bayi yang siap
dilahirkan ke dunia. Pada saat pertemuan suci antara sel telur dan sel sperma tidak
terjadi, maka sel-sel dinding rahimpun jauh dari sifat frustasi atau putus asa. Mereka
secara kaffah menjalankan fungsi memperbaiki diri, beregenerasi, dan memberi
kesempatan pada sel-sel baru untuk bersiap menyongsong masa depan yang telah
dibukakan bagi mereka. Pada hakikatnya proses haid dapat dianalogikan dengan suatu
ritual mensucikan, dan membangun nilai-
nilai harapan serta mempersiapkan energi
terbaik bagi kehidupan.

PEMBUAHAN YANG PENUH
BERKAH

“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan
dan jauhkanlah setan dari rezeki yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.”
(HR. Bukhari)

Ia adalah seorang wanita cantik yang memiliki sifat keibuan, ketabahan,
kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berpikir dan


kefasihan serta berakhlak mulia. Nama wanita ini adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti
Malhan.
Allah Azza wa Jalla memuliakan Ummu Sulaim dengan seorang suami saleh
bernama Abu Thalhah Al-Anshari. Pada masa awal pernikahannya dengan Abu Thalhah,
ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Umair. Suatu ketika anak tersebut
bemain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal ini menjadikannya
bersedih dan menangis. Pada saat itu, Rasulullah SAW berkata, ”Wahai Umair, apa yang
dilakukan oleh anak burung pipit itu?” (HR. Bukhari).
Allah SWT berkehendak untuk menguji Ummu Sulaim dan suaminya. Suatu ketika,
Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan
bagi ayahya apabila kembali dari pasar, hal pertama kali yang dia kerjakan setelah
mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum
merasa tenang sebelum melihat anaknya.
Abu Thalhah pun keluar rumah dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal.
Ummu Sulaim menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridha dan baik. Ia
membaringkan Umair di tempat tidur. Beliau berpesan kepada keluarganya, ”Janganlah
kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan
kepadanya.” Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap linangan air
matanya, kemudian dengan semangat menyambut sang suami seperti biasa, ”Apa yang
dilakukan oleh anakku?” Ummu Sulaim menjawab, ”Dia dalam keadaan tenang.”
Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga ia
bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya. Kemudian Ummu Sulim
mempersiapkan makan malam baginya. Ketika suaminya makan dan minum, Ummu
Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, ia
mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian
keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami istri.
Ketika Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah
mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, ia pun memuji Allah
karena beliau tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam
tidurnya.




Pada akhir malam beliau berkata kepada suaminya, ”Wahai suamiku, bagaimana
pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga
kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, bolehkah bagi keluarga
tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab, ”Tentu saja tidak boleh.” Kemudian,
Ummu Sulaim berkata lagi, ”Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan
tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah
berkata, ”Berarti mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, ”Sesungguhnya, anakmu
adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil.”
Abu Thalhah tidak kuasa menahan emosinya, ”Kau biarkan aku dalam keadaan
seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?” Abu Thalhah mengulangi kata-kata
tersebut hingga ia mengucapkan kalimat istirja’ lalu bertahmid kepada Allah sehingga
berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.
Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah SAW dan mengabarkan
kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda, ”Semoga
Allah memberkahi malam kalian berdua.”
Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi
nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau mengutus Anas bin Malik
untuk membawanya kepada Rasulullah SAW, selanjutnya Anas berkata, ”Wahai
Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam.” Maka Nabi
SAW mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (yakni menggosokkan kurma yang
telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata, ”Berikanlah nama bayi ya
Rasulullah!” beliau bersabda, ”Namanya Abdullah.” Abu Ubadah, salah seorang sahabat
Nabi berkata, ”Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hapal Al-
Quran.”
Demikianlah kecerdasan, keshalehan, dan kesempurnaan keturunan adalah hasil
dari sebuah proses yang harus dijalani dengan pengetahuan, keikhlasan, dan kesabaran
orang tua. Setiap
manusia memiliki fitrah yang sama,
hanya saja
perkembangan selanjutnya amat
bergantung
kepada proses pengasuhan dan
pendidikan yang
semestinya dimulai semenjak proses
pembuahan
belum dilakukan. Konsep ini





mungkin dapat dikenal sebagai “early education initiation”, proses menginisiasi
pendidikan anak secara dini. Maka salah satu syarat seorang wanita dapat tampil cantik
sebagai pribadi yang sempurna, pendidikan dan aksepsi pengetahuan dalam proses
pembuahan, kehamilan, persalinan, menyusui, dan pendidikan sampai tahapan juvenile
haruslah diterapkan dan dijalankan secara sistematis. Tahapan perkembangan dan ciri
biologis yang dapat diamati pada janin di dalam rahim adalah sebagai berikut (dikutip
dan dikembangkan dari blog dr. Liza dari STAIN Cirebon yang antara lain mengutip dari
Genetika, Suryo):
Secara umum, proses kehamilan yang dialami kaum wanita tidak lebih dari 40
minggu. Para ahli biasanya membagi tahapan usia kehamilan menjadi 3 trimester. Hal ini
bertujuan membantu
mengelompokkan waktu
perkembangan, sehingga mudah
untuk mempelajari proses
fisiologis pembentukan janin.
Berikut ringkasan dari tahap-tahap dalam perkembangan prenatal.

Minggu 1

Minggu pertama merupakan perkembangan awal sejak ovulasi sampai implantasi (proses
penanaman sel telur yang telah dibuahi ke dalam selaput lendir rahim yang telah
dipersiapkan secara khusus). Dari sekitar 200-300 juta spermatozoa yang dipancarkan ke


dalam saluran kelamin wanita, hanya satu yang lolos untuk melakukan proses
pembuahan.

Minggu 2
Sel telur yang telah dibuahi membelah dua 30 jam setelah dibuahi. Sambil terus
membelah, sel telur bergerak di dalam lubang falopi menuju rahim. Setelah membelah
menjadi 32, sel telur disebut morula. Pada minggu kedua ini, diperkirakan embrio
berukuran 0,1-0,2 mm.

Minggu 3
Pada hari ke-15 sampai ke-17, embrio diperkirakan berukuran 0,4 mm. Hanya dalam
hitungan hari, yaitu pada hari ke-17 sampai ke-19, ukurannya meningkat jadi sekitar 1,0-
1,5 mm. Di minggu ini, cikal-bakal sistem pembuluh darah dan sistem saraf mulai
terbentuk. Bahkan, pada hari-hari terakhir saat cikal-bakal jantung janin mulai terbentuk,
ukuran embrio sudah mencapai 1,5-2,5 mm. Pembentukan mata pun mulai terjadi, meski
rongga mata baru akan tampak jelas di minggu ke-6. Secara keseluruhan, pada minggu
ini sudah terdapat materi genetik, termasuk warna rambut, bentuk mata, dan intelegensi
calon bayi. Di kedua sisi tubuh embrio tumbuh suatu tonjolan kecil berupa sekelompok
sel yang merupakan cikal-bakal tangan. Selang beberapa hari kemudian, saat tunas
tangan memipih, pada kedua sisi tubuh sebelah bawah muncul tonjolan serupa yang
merupakan cikal-bakal kaki..
Minggu 4





Dengan ukuran sekitar 2 hingga 3,5 mm, jantung mulai berdenyut dan sistem peredaran
darah sudah melaksanakan fungsinya meski masih dalam taraf yang sangat sederhana.
Cikal-bakal otak beserta bagiannya sudah bisa dibedakan yang kelak akan menjalankan
fungsi masing-masing. Pada minggu ini pula saraf-saraf spinal yang kelak menjadi cikal-
bakal tulang belakang sudah mengalami penebalan. Sementara cikal bakal telinga sudah
terlihat meski masih berupa gelembung. Plasenta atau ari-ari juga terbentuk pada minggu
ini.

Minggu 5
Di minggu ini embrio diperkirakan berukuran antara 5-7 mm. Sistem saraf pusat, otot dan
tulang mulai dibentuk. Begitu pula dengan kerangka. Bahkan pada akhir minggu ke 5
gelombang otak janin sudah dapat teramati dengan piranti Electro Enchepahalograph
(EEG).

Minggu 6
Saat ini embrio diperkirakan berukuran sekitar 7-9 mm yang diukur dari puncak kepala
hingga bokong. Tuba saraf sepanjang punggung bayi telah menutup. Meski Anda belum
bisa mendengar, jantung bayi mulai berdetak pada minggu ini. Sistem pencernaan dan




pernafasan mulai dibentuk, pucuk-pucuk kecil yang akan berkembang menjadi lengan
kaki pun mulai tampak.

Minggu 7

Akhir minggu ketujuh, panjangnya sekitar 5-13 mm dan beratnya 0,8 gram, kira-kira
sebesar biji kacang hijau. Pucuk lengan mulai membelah menjadi bagian bahu dan tangan
yang mungil. Jantung telah dibagi menjadi bilik kanan dan bilik kiri, begitu pula dengan
saluran udara yang terdapat di dalam paru-paru.

Minggu 8
Panjang kira-kira 14-20 mm. Banyak perubahan yang terjadi pada bayi. Jika kita bisa
melihat, ujung hidung dan kelopak mata mulai berkembang, begitu pula telinga. Bronkus,
saluran yang menghubungkan paru-paru dengan tenggorokan, mulai bercabang. Lengan
semakin membesar dan ia memiliki siku. Semua ini terjadi hanya dalam 6 minggu setelah
pembuahan.

Minggu 9
Telinga bagian luar mulai terbentuk, kaki dan tangan terus berkembang berikut jari kaki
dan tangan mulai tampak. Ia mulai bergerak walaupun ibu hamil tak merasakannya.


Dengan Doppler, kita bisa mendengar detak jantungnya. Minggu ini, panjangnya sekitar
22-30 mm dan beratnya sekitar 4 gram.

Minggu 10
Semua organ penting yang telah terbentuk mulai bekerjasama. Pertumbuhan otak
meningkat dengan cepat, hampir 250.000 sel saraf baru diproduksi setiap menit. Ia mulai
tampak seperti manusia kecil dengan panjang 32-43 mm dan berat 7 gram.

Minggu 11
Panjang tubuhnya sudah mencapai sekitar 6,5 cm. Janin sudah mampu melakukan
gerakan demi gerakan dari tangan dan kakinya, termasuk gerakan menggeliat. Gerakan-
gerakan ini baru bisa dirasakan ibu sekitar kehamilan 18 minggu. Janin pun sudah bisa
mengubah posisinya dengan berputar, memanjang, bergelung, atau malah jumpalitan.

Minggu 12
Panjang janin sekarang sekitar 6,5-8 cm dan bobotnya sekitar 18 gram. Kepala bayi
menjadi lebih bulat dan wajah telah terbentuk sepenuhnya. Semua organ vital telah
terbentuk. Bayi mulai menggerak-gerakkan tungkai dan lengannya, bayi dapat mengisap
lengannya tetapi ibu belum dapat merasakan gerakan-gerakan ini.
Minggu 13: Panjang janin dari puncak kepala sampai bokong sekitar 65-78 mm dengan
berat kira-kira 20 gram. Rahim dapat teraba kira-kira 10 cm di bawah pusar.
Pertumbuhan kepala bayi yang saat ini kira-kira separuh panjang janin mengalami
perlambatan dibanding bagian tubuh lainnya. Perlambatan ini berlangsung terus, hingga
pada akhir kehamilan akan tampak proporsional, yaitu kira-kira tinggal sepertiga panjang
tubuhnya. Kedua cikal bakal matanya makin hari kian bergeser ke bagian depan wajah
meski masih terpisah jauh satu sama lain. Sementara telinga bagian luar terus
berkembang dan menyerupai telinga normal. Kulit janin yang masih sangat tipis
membuat pembuluh darah terlihat jelas di bawah kulitnya. Seluruh tubuh janin ditutupi
rambut-rambut halus yang disebut lanugo. Tulang belulangnya sudah terbentuk di
minggu-minggu sebelumnya dan di minggu-minggu selanjutnya akan menahan kalsium
dengan sangat cepat, hingga tulangnya jadi lebih keras.





Minggu 14:
Panjangnya mencapai kisaran 80 mm atau 8 cm dengan berat sekitar 25 gram. Telinga
janin menempati posisi normal di sisi kiri dan kanan kepala. Mata pun telah mengarah ke
posisi sebenarnya. Leher berkembang lebih nyata, hingga lebih mudah membedakan jenis
kelaminnya.

Minggu 15:

Panjang janin sekitar 10-11 cm dengan berat kira-kira 80 gram. Kehamilan semakin
terlihat. Kulit dan otot-otot, terutama di sekitar perut akan melar karena mengalami
peregangan luar biasa guna mengakomodasi pembesaran rahim. Garis-garis regangan
yang disebut striae umumnya muncul di daerah perut, payudara, bokong dan panggul.
Pada masa ini indera pengecap sudah mulai dapat merasa.

Minggu 16: Panjang janin sekarang sekitar 16 cm dan bobotnya sekitar 35 gram. Ia
menggerak-gerakkan seluruh tungkai dan lengannya, menendang dan menyepak. Inilah
tahap paling awal di mana ibu dapat merasakan gerakan bayi. Rasanya seperti ada seekor
kupu-kupu dalam perutmu. Sistem pencernaan janin pun mulai menjalankan fungsinya.
Dalam waktu 24 jam janin menelan air ketuban sekitar 450-500 ml. Pada usia ini, janin




juga mulai mampu mengenali dan mendengar suara-suara dari luar kantong ketuban.
Termasuk detak jantung ibu bahkan suara-suara di luar diri si ibu, seperti suara gaduh
atau teriakan maupun sapaan lembut.

Minggu 17:

Panjang tubuh janin meningkat lebih pesat ketimbang lebarnya, menjadi 13 cm dengan
berat sekitar 120 gram, hingga bentuk rahim terlihat oval dan bukan membulat.
Akibatnya, rahim terdorong dari rongga panggul mengarah ke rongga perut. Pada masa
ini bayi sudah dapat bermimpi saat ia tidur. Lemak yang juga sering disebut jaringan
adiposa mulai terbentuk di bawah kulit bayi yang semula sedemikian tipis pada minggu
ini dan minggu-minggu berikutnya.

Minggu 18: Taksiran panjang janin adalah 14 cm dengan berat sekitar 150 gram. Rahim
dapat diraba tepat di bawah pusar, ukurannya kira-kira sebesar buah semangka.
Pertumbuhan rahim ke depan akan mengubah keseimbangan tubuh ibu. Mulai usia ini
hubungan interaktif antara ibu dan janinnya kian terjalin erat. Tak mengherankan setiap
kali si ibu gembira, sedih, lapar atau merasakan hal lain, janin pun merasakan hal sama.

Minggu 19: Panjang janin diperkirakan 13-15 cm dengan taksiran berat 200 gram.
Sistem saraf janin yang terbentuk di minggu ke-4, di minggu ini makin sempurna


perkembangannya, yakni dengan diproduksi cairan serebrospinalis yang mestinya
bersirkulasi di otak dan saraf tulang belakang tanpa hambatan. Nah, jika lubang yang ada
tersumbat atau aliran cairan tersebut terhalang oleh penyebab apa pun, kemungkinan
besar terjadi hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak. Jumlah cairan yang
terakumulasi biasanya sekitar 500-1500 ml, tetapi bisa juga mencapai 5 liter!
Penumpukan ini jelas berdampak fatal mengingat betapa banyak jumlah jaringan otak
janin yang tertekan oleh cairan tadi.

Minggu 20: Memasuki bulan ke-5 ini, panjang janin mencapai kisaran 14-16 cm dengan
berat sekitar 260 gram. Janin sudah mengenali suara ibunya. Kulit yang menutupi tubuh
janin mulai bisa dibedakan menjadi dua lapisan, yakni lapisan epidermis yang terletak di
permukaan dan lapisan dermis yang merupakan lapisan dalam. Epidermis selanjutnya
akan membentuk pola-pola tertentu pada ujung jari, telapak tangan maupun telapak kaki.
Sedangkan lapisan dermis mengandung pembuluh-pembuluh darah kecil, saraf dan
sejumlah besar lemak. Seiring perkembangannya yang pesat, kebutuhan darah janin pun
meningkat tajam. Agar anemia tak mengancam kehamilan, ibu harus mencukupi
kebutuhannya akan asupan zat besi, baik lewat konsumsi makanan bergizi seimbang
maupun suplemen yang dianjurkan dokter.

Minggu 21 Beratnya sekitar 350 gram dengan panjang kira-kira 18 cm. Pada minggu ini,
berbagai sistem organ tubuh mengalami pematangan fungsi dan perkembangan. Ia pun
sudah mampu menyerap atau menelan gula dari cairan lalu dilanjutkan melalui sistem
pencernaan manuju usus besar. Gerakan bayi semakin pelan karena beratnya sudah 340
gram dan panjangnya 18-20 cm.

Minggu 22
Indra yang akan digunakan bayi untuk belajar berkembang setiap hari. Setiap minggu,
wajahnya semakin mirip seperti saat dilahirkan. Perbandingan kepala dan tubuh semakin
proporsional.

Minggu 23


Walaupun lemak semakin bertumpuk di dalam tubuh bayi, akan tetapi kulitnya masih
kendur sehingga tampak keriput. Ini karena produksi sel kulit lebih banyak dibandingkan
lemak. Ia mulai terbiasa menggerakkan otot jari-jari tangan dan kaki, lengan dan kaki
secara teratur. Beratnya hampir 450 gram.

Minggu 24
Paru-paru mulai mengambil oksigen meski bayi masih menerima oksigen dari plasenta.
Untuk persiapan hidup di luar rahim, paru-paru bayi mulai menghasilkan surfaktan yang
menjaga kantung udara tetap mengembang.

Minggu 25
Berat bayi kini mencapai sekitar 600-700 gram dengan panjang dari puncak kepala
sampai bokong kira-kira 22 cm. Sementara jarak dari puncak rahim ke simfisis pubis
sekitar 25 cm. Ia sudah mampu menghirup dan mengeluarkan air ketuban. Jika air
ketuban yang tertelan terlalu banyak, ia akan mengalami cegukan.

Minggu 26
Di usia ini berat bayi diperkirakan hampir mencapai 850 gram dengan panjang dari
bokong dan puncak kepala sekitar 23 cm. Denyut jantung sudah jelas-jelas terdengar,
normalnya 120-160 denyut per menit. Mata yang semula menutup mulai membuka dan
mengedip. Bulu mata mulai berkembang, begitu pula dengan rambut di kepala.

Minggu 27
Bayi kini beratnya melebihi 1000 gram. Panjang totalnya mencapai 34 cm dengan
panjang bokong ke puncak kepala sekitar 24 cm. Di minggu ini kelopak mata mulai
membuka. Sementara retina yang berada di bagian belakang mata, membentuk lapisan-
lapisan yang berfungsi menerima cahaya dan informasi mengenai pencahayaan itu
sekaligus meneruskannya ke otak. Pada minggu pertama trimester ketiga ini, paru-paru,
hati dan sistem kekebalan tubuh masih harus dimatangkan.







Minggu 28

Minggu ini beratnya 1100 gram dan panjangnya 25 cm. Otak bayi semakin berkembang
dan meluas. Lapisan lemak pun semakin berkembang dan rambutnya terus tumbuh.

Minggu 29
Kelenjar adrenalin bayi mulai menghasilkan hormon seperti androgen dan estrogen.
Hormon ini akan menstimulasi hormon prolaktin di dalam tubuh ibu sehingga membuat
kolostrum (air susu yang pertama kali keluar saat menyusui).

Minggu 30
Lemak dan berat badan bayi terus bertambah sehingga bobot bayi sekarang sekitar 1400
gram dan panjangnya 27 cm. Karena ia semakin besar, gerakannya semakin terasa.

Minggu 31
Plasenta masih memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi. Aliran darah di plasenta
memungkinkan bayi menghasilkan air seni. Ia berkemih hampir sebanyak 500 ml sehari
di dalam air ketuban.





Minggu 32
Jari tangan dan kaki telah tumbuh sempurna, begitu pula dengan bulu mata, alis dan
rambut di kepala bayi yang semakin jelas. Lanugo yang menutupi tubuh bayi mulai
rontok tetapi sebagian masih ada di bahu dan punggung saat dilahirkan. Dengan berat
1800 gram dan panjang 29 cm, kemampuan bertahan hidup di luar rahim sudah lebih baik
jika di dilahirkan pada minggu ini.

Minggu 33
Beratnya lebih dari 2000 gram dan panjangnya sekitar 43 cm. Vernix yang menutupi kulit
bayi sudah cukup tebal. Paru-parunya hampir matang dan ia terus berlatih pernafasan
setiap hari. Pada minggu ini, ia mulai berada di dalam posisi kelahiran.



Proses tumbuh kembangnya manusia berawal dari sebuah sel telur yang dibuahi sel
nutfah. Dengan sangat cerdas, sel telur menerapkan mekanisme seleksi yang ketat untuk
mendapatkan calon mitra terbaik. Dengan kecerdasannya pula sel membelah dan
membagi dirinya dalam suatu sistem organisasi yang rumit. Setiap sel seolah mengetahui
peran dan fungsi keberadaan dirinya. Tentu saja, di balik keteraturan ini terdapat
sebuah rancangan mekanistik yang sempurna. Dalam proses membentuk organ-organ
tubuh yang berbeda, setiap sel akan mengubahsuaikan dirinya menjadi sel yang
dibutuhkan lingkungannya. Demikian pula ketika membentuk jari-jemari, sebagian sel




menuruti peran untuk “meninggal” secara bermartabat (apoptosis) agar tercipta sela
antar jari.
Minggu 34
Bayi yang dilahirkan pada minggu ini, paru-parunya sudah cukup matang. Beratnya
mencapai 2250 gram dengan panjang 32 cm sehingga ia sudah mampu bertahan hidup
tanpa bantuan peralatan medis.

Minggu 35

Secara fisik bayi berukuran sekitar 45 cm dengan berat 2450 gram. Namun yang
terpenting, mulai minggu ini bayi umumnya sudah matang fungsi paru-parunya. Ini
sangat penting karena kematangan paru-paru sangat menentukan life viability atau
kemampuan bayi untuk bertahan hidup. Kematangan fungsi paru-paru ini sendiri akan
dilakukan lewat pengambilan cairan amnion untuk menilai lesitin spingomyelin atau
selaput tipis yang menyelubungi paru-paru. Selain itu, lemak sudah disimpan di seluruh
tubuh terutama sekitar bahu. Gerakannya semakin berkurang karena ukurannya yang
semakin besar.

Minggu 36




Tinggal beberapa minggu lagi bayi dilahirkan. Baratnya sudah mencapai 2750 gram.
Asupan kalsium membantu kerangka bayi lebih kuat tetapi masih cukup lembut untuk
melewati jalan lahir.

Minggu 37
Meskipun sudah cukup bulan, bayi masih terus berkembang. Ia mulai menghasilkan
kortison, hormon yang membantu kematangan paru-paru untuk mengambil udara tanpa
bantuan.

Minggu 38
Beratnya sekitar 3100 gram dan panjangnya 35 cm. Lemak masih diproduksi meski
tingkat pertumbuhannya mulai melambat. Jika bayinya laki-laki, testikel telah turun
mendekati skrotum. Jika bayinya perempuan, alat kelaminnya telah berkembang
sempurna.

Minggu 39
Karena beratnya 3250 gram, ia memenuhi rongga rahim. Tali pusat yang membawa
nutrisi dari plasenta panjangnya 50 cm dan tebalnya 1,3 cm. Karenanya tali pusat bisa
melilit bayi.

Minggu 40





Panjangnya mencapai kisaran 45-55 cm dan berat sekitar 3300 gram. Betul-betul cukup
bulan dan siap dilahirkan. Jika laki-laki, testisnya sudah turun ke skrotum, sedangkan
pada wanita, labia mayora (bibir kemaluan bagian luar) sudah berkembang baik dan
menutupi labia minora (bibir kemaluan bagian dalam). Apabila kita hitung, pada akhir
proses pertumbuhan embrio menjadi seorang manusia, beratnya mencapai sekitar 8 juta
kali lebih besar dibanding berat sel telur yang membentuknya.

Ikhtiar Mewujudkan Anak Saleh
Anak saleh, cerdas, hebat, dan kuat adalah dambaan setiap orangtua. Akan tetapi,
tidak semua orangtua bisa mendapatkannya. Boleh jadi, saking tidak mudahnya, hanya
ada satu dari seratus atau seribu pasangan orangtua yang memiliki anak dengan
kualifikasi istimewa. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan anak saleh
bukanlah perkara instant, diperlukan proses panjang, kerja keras, dan kesungguhan dalam
mengusahakannya. Bahkan, jauh hari sebelum anak itu lahir ke dunia orangtua sudah
harus mempersiapkan diri, termasuk persiapan jasmaniah dan ruhaniah, pada saat
melakukan hubungan suami istri (Lihat kembali betapa berat perjuangan Ummu Sulaim
dalam meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar). Kedua persiapan itu diperlukan
agar keturunan yang akan lahir memiliki kesempurnaan jasmaniah dan ruhaniah.
Dalam ikhtiar untuk membentuk “anak sholehah dan sholeh”, proses pembuahan
yang diawali hubungan intim antara ibu dan bapak ini, menjadi pintu gerbang yang harus
dilewati dengan baik. Al-Quran menganalogikan wanita sebagai ladang-ladang yang siap
di tanami, sedangkan laki-laki sebagai pemilik benih. Tentu saja, untuk menghasilkan
panen yang memuaskan, ada sekian faktor yang harus diperhitungkan, mulai dari
benihnya yang berkualitas, tanahnya yang subur, dan cara menanamnya yang baik dan


sesuai aturan. Rasulullah SAW pun (semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya)
menegaskan, “Pilihlah lahan untuk menanam benihmu. Karena wanita melahirkan
orang-orang yang mirip saudara-saudara laki-laki dan perempuanmu.” (HR. Ibnu Adî
dan Ibnu ‘Asakir dari ‘Aisyah)
Dalam konteks ini, bapak dan ibu perlu memerhatikan beberapa hal ketika
melaksanakan hubungan agung tersebut, yaitu:
1. Pemilihan waktu pembuahan yang tepat.
2. Menjalankan tahajud secara istiqamah.
3. Dilakukan pada hari-hari seusai menjalankan shaum sunnah.
4. Jika pembuahan direncanakan pada bulan Ramadhan, shalat Witir dapat diakhirkan
sampai menjelang sahur dan pembuahan dilakukan setelah Witir.
5. Meminum air putih tiga takaran atau takaran ganjil lainnya sesuai kemampuan.
6. Perhatikan dengan benar siklus ovulasi istri. Puncak siklus ovulasi biasanya akan
tercapai pada hari ke-14 setelah haid terakhir. Usahakan suami-istri berpuasa
hubungan intim sekurangnya 2 hari sebelum melakukan hubungan di hari puncak
ovulasi agar jumlah dan kualitas sperma memadai.

Bagaimana pelaksanaannya? Pada awal proses pembuahan yang diawali proses
persetubuhan, suami istri hendaknya mengucapkan doa, ”Bismillâhi, Allâhumma
jannibnasy syaythâna wa jannibisy syaithâna mâ razaqtanâ”. (Artinya), “Dengan nama
Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki
yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR Bukhari). Hakikatnya, doa itu akan
membebaskan janin yang kelak akan dikandung ibu dari sifat-sifat “panas” hawa nafsu.
Sel-sel nutfah bapak dan ibu yang telah berdoa akan membawa sifat qana’ah atau merasa
cukup dengan yang ada, tenang, dan didominasi protein kebaikan.
Jika dalam sehari semalam manusia memiliki manzilah (lintasan) biologis, waktu
utama bagi bapak dan ibu untuk merancang kehamilan melalui proses pembuahan adalah
pada sepertiga malam terakhir atau sebelum datangnya waktu subuh. Pada waktu itu, ibu
dan bapak melakukan Qiyamullail yang ditutup dengan shalat Witir. Sebagai pertanda
berakhirnya satu siklus harian, seluruh sistem reproduksi kita berada pada tingkat
kesalehan tertinggi. Di mana seluruh rangkaian shalat wajib dan sunnah untuk hari yang


terlalui telah lengkap dijalankan. Hari yang terbaik adalah Jumat pagi setelah sebelumnya
bapak dan ibu menjalankan shaum sunnah Kamis dan juga Selasa pagi setelah shaum
sunnah hari Senin. Atau, hari-hari di mana bulan sedang mengalami purnama, dan bapak
serta ibu usai menjalankan shaum sunnah Ayyammul Bit atau shaum sunnah tiga hari
pada tengah bulan.
Persiapan jasmaniah juga diperlukan agar keturunan yang akan lahir memiliki
kesempurnaan jasmaniah. Bapak dan ibu membutuhkan volume cairan tubuh yang
optimal. Untuk itu, sebelum menjalankan Qiyamullail disarankan untuk minum air putih
sebanyak tiga gelas (@ 250 ml). Air adalah zat dengan polaritas netral dan mampu
menguraikan unsur-unsur penting dalam tubuh agar dapat terdistribusi dengan sempurna
sampai kepada saluran reproduksi. Sifat molekul air, yang mampu mengurangi sifat
elektronegativitas sel nutfah, akan membantu proses pembuahan agar berlangsung secara
sempurna. Waktu minum yang dilakukan sebelum Qiyamullail dimaksudkan agar selama
shalat malam, air akan “tergetar” oleh lantunan doa. Kemudian, secara bersama-sama
akan membentuk bangunan-bangunan molekuler baru yang akan menyelaraskan
“getaran” sel-sel nutfah tersebut.
Getaran doa Qiyamullail adalah getaran dengan frekuensi rindu. Rasa kangen
kepada Dzat Yang Mahatinggi akan memicu hormon endorfin, peniletilamin (PEA), dan
oksitosin. Ketiga hormon itu akan melukis rasa rindu ibu kepada Allah SWT dalam sel-
sel nutfah dan kelak pada sel-sel alaqah (darah) serta mudghah (daging).
Dengan demikian, sejak terjadinya persatuan antara sel nutfah (sperma) dari bapak
dan sel telur dari ibu, sejak itu pula terjadi pembelahan demi pembelahan sel. Setiap ibu
shalat, berzikir, dan memanjatkan doa, saat itu pula sel-sel calon-calon bayi membelah
dengan iringan energi doa, hingga akhirnya ia lahir ke dunia.
Tapi acapkali manusia atau pasangan suami istri juga ingin turut merencanakan
bentuk keluarga mereka ke depan. Allah SWT memberikan kemampuan kepada manusia
untuk mengkaji dan memaknai setiap tanda yang telah diberikannya dalam bentuk
fenomena-fenomena alam. Jika orang tua mempelajari fenomena biologis atau hayati
yang adala dan emlekat bersama tubuhny adapat saja orang tua merencanakan kehamilan
dan juga memilih jenis kelamin anak yang dikehendaki. Kemajuan teknologi bahkan



dapat membantu meningkatkan prosentase kemungkinan pemilihan jenis kelamin berhasil
Apalagi jika proses kehamilan dibantu dengan metoda Invitro Fertilization/ IVF yang
lebih dikenal masyarakat sebagai metoda bayi tabung. Adapun niat orangtua untuk
merencanakan jenis kelamin anaknya biasanya terkait dengan peran yang mereka
harapkan. Ada sebagian orangtua yang menghendaki anak pertamanya perempuan agar
anak tersebut kelak dapat memabntu mengasuh adik-adiknya, maklumlah pandangan
terhadap fungsi perempuan masih terbelenggu dalam perspektif domestik. Tetapim ada
pula keluarga yang menghendaki agar anak pertamanya laki-laki, mengapa ? Karena anak
laki akan emmabwa nama marga, inipun sesungguhnya hanyalah bagian dari
perkembangan budaya patriarki. Karena dalam konteks keislaman dan keilmuan
pembawa sifat dominan itu justru seorang ibu. Maka tak heran apabila Rasulullah SAW
sampai mengulang tiga kali kata Ibu ketika ditanya siapakah orang yangharus dihormati
dan dimuliakan. Peran ibu ini maujud dalam bentuk warisan DNA yang hanya terdapat di
mitokondria, atau lebih dikenal sebagai mtDNA. Meski kecil dan tampaknya selama ini
kalah pamor dengan DNA yang terdapat di inti sel, DNA mitokondria inilah yang
bertugas untuk memproduksi energi kehidupan. Dan para wanita seluruh dunia harus tahu
! DNA mitokondria hanya diwariskan dari garis ibu saja. Masih ingat di penjelasan
terdahulu tentang proses pembuahan dan tumbuh kembang janin di dalam rahim ? Ketika
sel nutfah pria ( sperma) memasuki sel telur yang berukuran jauh lebih besar, hanya
bagian badan selnya saja yang dapat masuk dan bersatu dengan sel telur. Sementara
mitokondria terdapat di ekor sperma dan diperguanakan untuk emnghasilkan energi bagi
pergerakan sperma di sepanjang saluran reproduksi wanita. Akibatnya mitokondria pria
tidak terbawa ke dalam sel telur, dan kita semua hanya mendapatkan mitokondria dari
jalur ibu saja !
Kembali ke masalah pemilihan jenis kelamin anak, ada beberapa metoda klasik
yang kerap berhasil. Sebagai pengetahuan yang menentukan jenis kelamin seorang anak
adalah sperma mana yang berhasil lebih dahulu membuahi sel telur. Karena, sel telur
hanya terdiri dari kromosom X, maka bila sperma X yang
membuahi sel telur, maka janin yang dihasilkan menjadi XX
yang berarti berjenis kelamin perempuan, sedangkan bila


sperma Y maka akan menjadi XY yang berarti anak laki-laki. Sperma X dan Y memiliki
sifat yang berbeda. Perbedaan itu meliputi ukuran kromosom X yang lebih besar dari
kromosom Y karena adanya muatan genetika yang lebih beragam. Mari kta perhatikan
tubuh seorang wanita, ada rahim beserta jalan lahir dan indung telur, lalu ada pula
kelenjar payudara, dan yang tak kalah penting terdapat proses produksi beberapa hormon
yang spesik pada wanita dan tidak terdapat pada pria. Perbedaan-perbedaan tersebut akan
termanifestasi dalam kondisi faktual sebagai berikut :
Perbedaan karakteristik sperma X dan Y
Sperma X
Sperma Y
Bergerak lebih lambat Mampu bergerak lebih cepat
Jangka waktu hidup lebih
Jangka waktu hidup lebih
lama
pendek
Lebih tahan dalam
Tidak tahan dalam
lingkungan asam
lingkungan asam
Pengondisian lingkungan vagina akan menentukan tingkat viabilitas spema dengan
kromosom Y dan X. Jika vagina bersifat asam, pH atau derajat keasaman vagina normal
adalah 7,1 sampai dengan 7,3 atau bersifat agak basa. Pengondisian lingkungan antara
lain dapat dilakukan dengan beberapa metoda sebagai berikut :
1. Faktor nutrisi yang dikonsumsi oleh pasangan, ada beberapa nutrisi yang
memiliki potensi untuk mengoptimalkan fungsi kromosom Y, misal makanan
yang mendorong pembentukan ATP dan pemecahan energi berbasis gula fruktosa.
Buah-buahan manis seperti mangga, melon, kurma, cempedak, nagka, serta durian
akan emmabnatu kromosom Y lebih aktif dan berenergi. Demikian pula konsumsi
madu yang kaya mineral ( trace element) dan fruktosa akan memabntu
memperkuat kerja kromosom Y. Sedangkan pada wanita konsumsi sayur mayur
dan bahan yang bersifat alkalis seperti produk turunan susu ( keju, mentega, dan
makanan olahan berlemak jenuh) akan membantu menjadikan saluran
reproduksinya bersifat basa. Sedangkan secara umum untuk mempermudah


pembuahan nutrisi yang kaya akan kandungan zinc, fosfat, vitamin C atau asam
askorbat, dan riboflavin, fiolat, serta tiamin amat diperlukan.
2. Faktor waktu pembuahan dan kondisi lingkungan makros. Adanya momentum
bulan purnama atau perbedaan pagi, siang, sore, malam, hari dan sepertiga malam
yang penghujung memberikan referensi tersendiri yang s\masing-masing sangat
khas. Kuatnya gravitasi bumi dibanding dengan pengaruh dari benda langit
lainnya akan membantu proses pemilihan kromosom.
3. Posisi ketika melakukan hubungan intim. Jika dilakukan siang hari dan posisi
wanita berada di sebelah bawah maka kemungkinan terbesar akan terjadi
pembuahan yang dilakukan sperma berkromosom X yang lebih berat. Sedangkan
jika proses pembuahan dilakukan di malam hari ketika bulan purnama dan posisi
wanita berada di sebelah atas, maka kemungkinan besar sperma berkromosom Y
yang akan membuahi sel telur terlebih dahulu.

CINTA YANG MAMPU MENGUBAH DUNIA
Tahukah anda bahwa jika seorang wanita tidak berbahagia dalam kehidupan
pernikahannya maka dunia akan muram ? Perang dan kekejaman berlangsung dimana-
mana, dan hati nurani akan kehilangan makna dan tempatnya bersemayam. Mengapa
demikian ? Ada satu hormon cinta yang bernama oksitosin, dan hebatnya meski
jumlahnya tak seberapa tapi perannya luar biasa. Ketika wanita tengah menghadapi saat-
saat menegangkan antara hidup dan mati, hor mon inilah yang menentukan kelancaran
prosesnya. Yah ketika seorang wanita tengah melangsungkan proses persalinan bayi,
oksitosin berperan teramat penting dengan mengatur kontraksi otot rahim sehingga
mampu mendorong bayi keluar. Tetapi jangan salah, peran hormon yang satu ini tidak
hanya itu, ia juga memiliki reseptor di otak yang turut membantu menumbuhkembangkan
konsep kebahagiaan. Apabila hormon ini berada dalam kondisi yang terjaga dan tetap
tinggi maka seorang wanita, seorang ibu, istri, pekerja, ataupun seorang ilmuwan unggul
akan memiliki kehangatan, rasa memiliki, rasa menyayangi, dan jernihlah pikirannya.
Coba bayangkan andai seorang ibu memulai hari-hari di rumah dengan segunung


kegundahan apa yang akan terjadi pada suami, anak, tetangga, dan juga banyak orang lain
yang terkait dalam jejaring sosial ? Maka hormon cinta wanita yang ingin menjadi cantik
haruslah tetap terjaga. Untuk menjaga keberadan dan fungsi hormon cinta itu maka Allah
SWT telah menetapkan fitrah yang apabila kita pelajari serta optimasi secara seksama
tentulah akan menghasilkan dampak yang sangat positif, berupa kebahagiaan yang dapat
dirasakan oleh banyak kalangan.
Fitrah yang dikaruniakan Allah SWT kepada seorang wanita sebagai amanah
yang harus dipelajari dan disyukuri, antara lain adalah fungsi dan potensi sistem
reproduksi dan genitalnya. Seorang wanita secara anatomis memiliki klitoris yang
diperkaya dengan jaringan syaraf sensoris yang sangat sensitif. Terdapat pula
sekumpulan ujung sel syaraf sensoris yang terdapat di daerah dinding vagian sebelah
depan sekitar 5 sampai 10 cm dari bagian genital terluar. Titik atau area akaya
persyarafan ini dinamai G-spot ( titik G) karena ditemukan oleh Dr.Grafenberg pada
tahun 1950. Wanita juga memiliki rahim yang posisinya memungkinkan terjadinya
hubungan seksual secara berhadap-hadapan ( missonary position). Tetapi meski secara
anatomis seorang wanita telah memiliki kelengkapan untuk dapat menikmati hubungan
seksual secara optimal, fakta di lapangan justru menunjukkan fenomena yang sebaliknya.
26% wanita di Amerika Serikat mengalami kesulitan dalam mencapai orgasme, sementra
angka ini bagi pria hanya berkisar sekitar 2,5% saja. 46% dari wanita yang mengalami
kesulitan orgasme ternyata memiliki persepsi negatif tentang dirinya, sehingga dapat
dismpulkan bahwa orgasme pada wanita sesungguhnya lebih ditentukan oleh penataan
pola pikir yang bersangkutan. Fungsi dari orgasme selain memberikan rasa nyaman dan
relaksasi, serta menumbuhkan keterikatan kasih sayang ( attachment), juga berfungsi
untuk mengoptimalkan masuknya sel-sel sperma yang akan membuahi sel telur. Hal ini
terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada seorng wanita yang
mengalami orgasme lebih awal atau lebih dahulu daripada suaminya akan lebih adaptif
terhadap masuknya sel sperma (tingkat penolakan hanya berkisar sekitar 50% saja).
Proses orgasme sendiri akan menghasilkan respon neurofisiologis yang unik. Salah satu
keunikan tersebut adalah dengan disekresinya beberapa hormon otak selama proses
orgasme berlangsung. Stimulasi dan tekanan pada titig G misalnya, akan mendorong


diproduksinya endorfin, alias analgesik alamiah yang sekaligus sifatnya menyerupai
narkoba yang menghadirkan sensasi nyaman. Maka berkembanglah hipotesa mengenai
fungsi titik G yang tidak hanya terbatas pada fungsi seksual saja, melainkan justru dapat
ditafsirkan sebagai bagian dari kasih sayang Allah SWT bagi para ibu yang tengah
menjalani proses persalinan. Tekanan kepala bayi di jalan lahir, tepatnya di daerah titik G
berada, akan memicu produksi endorfin yang membantu seorang ibu menahan rasa
sakitnya. Mari kita bayangkan seandainya Allah SWT tidak mendesain dan
mengaruniakan titik G pada seorang wanita, tampaknya proses persalinan akan menjadi
peristiwa horor yang traumatik ! Fakta ini juga membuka wawasan kita tentang
keutamaan persalinan normal,pasti ada perubahan fisiologis yang bermakna di otak
seorang wanita yang bersalin secara normal, yang tidak akan ditemui pada wanita yang
dioperasi seksio saesaria. Pada saat orgasme juga terjadi sekresi hormon oksitosin yang
menyertai kontraksi otot panggul dan rahim. Adanya stimulasi pada klitoris dan titik G,
serta sepertiga bagian luar dinding vagina akan menimb ulkan respon meningkatnya
ketegangan motorik di sekujur tubuh yang akan diikuti oleh “ledakan” orgasmik berupa
gerakan-gerakan involunter ( di luar kendali kesadaran) di seluruh tubuh dengan
konsentrasi terhebat terjadi di daerah rahim, vagina, dan anus. Kontraksi di ketiga daerah
inilah yang merangsang diproduksinya hormon oksitosin. Pada tahap selanjutnya
peningkatan kadar oksitosin ini akan menimbulkan rasa kasih sayang, kepedulian terhdap
sesama, dan kejernihan pikiran. Semua ini menjadi modal bagi seorang wanita untuk
menjadi pribadi yang cerdas dan sukses dalam karier, rumah tangga, lingkungan sosial,
dan terutama dalam menjalankan peran sebagai ibu.
Untuk mencapai kondisi indah dan ideal tersebut tentulah diperlukan ikhtiar
dalam mencari ilmu yang tepat. Selama ini seksualitas dan aspek reproduksi
senantiasa ditabukan dan tidak dipelajari serta dibicarakan secara terbuka. Akibatnya
banyak pasangan suami-istri justru mendasari kehidupan seksualitas mereka kepada
mitos dan bukan kepada ilmu serta fakta. Mari simak fakta dan informasi berikut :
Sejarah seksualitas dan orgasme pada wanita diawali di era kejayaan filsafat
Yunani yang dimotori oleh Socrates. Sekitar 4 abad sebelum masehi Socrates
berhipotesa bahwa terbentuknya janin di dalam rahim adalah hasil dari kenikmatan


seksual yang dirasakan oleh seorang wanita. Teori ini kemudian dibantah oleh
Aristoteles, filsuf yang satu ini justru meyakini bahwa hanya cairan semen (mani)
pria yang subur sajalah yang terlibat dalam proses pembentukan janin di dalam
rahim. Implikasi dari perbedaan pendapat ini adalah bergesernya konsep budaya yang
mengedepankan kepentingan wanita, terkait dengan peran sentralnya dalam proses
prokreasi dimana kenikmatan seksual adalah stimulus agar wanita hamil, menjadi
pengebirian fungsi. Wanita harus pasrah saja menerima proses pembuahan yang
sepenuhnya menjadi inisiatif aktif pria. Kondisi ini terus berlangsung sampai abad ke
19, wanita terus terpasung. Memang berkembangnya pengetahuann hayati mulai
sedikit mengubah pandangan masyarakat terpelajar, sebagian dari mereka meyakini
bahwa kepuasan seksual seorang wanita turut menentukan keberhasilan proses
pembuahan. Tetapi secara sosial budaya stigmatisasi terhadap wanita tetap tidak
berubah. Bahkan dalam aturan-aturan kemasyarakatan ortodoks peran wanita dalam
konteks reproduksi hanya disetarakan sebagai bagian dari “alat produksi”. Hadirnya
Islam yang bersifat rahmatan lil alamin membawa dampak perubahan yang sangat
signifikan dalam hubungan antara pri dan wanita. Jika dalam abad-abad ke 5 dan 6
memiliki anak wanita adalah sebuah kenistaan, mengingat peran sosialnya yang
sangat marjinal, maka komunitas semenanjung hijjaz mengalami transformasi
kultural yang sangat dhasyat ketika Islam menempatkan sosok wanita sebagai
representasi kemuliaan dan kesucian. Adab dalam berhubungan suami-istripun
mendapat perhatian, dan wanita dilindungi haknya untuk mendapatkan kebahagiaan.
Rasa saling menyayangi, mengasihi, dan kesetaran dalam berkomunikasi menjadikan
rumah tangga Islami merupakan wadah bagi seorang wanita untuk mengoptimalkan
fitrahnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu rerata yang dibutuhkan oleh
seorang wanita untuk mencapai orgasme berkisar sekitar 20 menit. Sementara itu
pada pria orgasme akan tercapai dalam 2 sampai 5 menit saja. Tingkat pencapaian
orgamse berkorelasi dengan tingkat pendidikan seorang wanita, 63% wanita yang
berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi mengaku pernah merasakan orgasme.
1% dari responden sebuah penelitian ternyata mampu mendapatkan orgasme melalui


stimulasi payudara. Hal ini tidak aneh karena daerah erogenik pada wanita sangat
banyak. Yang sering dieksplorasi dan mendapat stimulasi antara lain adalah bibir,
lidah, daerah leher dan pundak, bokong, paha sebelah dalam, dan payudara.
Pengenalan yang baik terhadap fungsi-fungsi organ tubuh akan menjadikan seorang
wanita menjadi lebih tahu apa yang diinginkannya dalam sebuah proses hubungan
suami-istri.
Kemampuan seorang wanita untuk dapat merasakan orgasme dalam hubungan
intim bergantung kepada beberapa faktor yang terlibat baik secara langsung maupun
tidak. Melihat adanya ketidaksinkronan fakta antara pria dan wanita yang telah
dipaparkan di atas maka diperlukan strategi yang tepat agar potensi kedua belah
pihak (suami-istri) dapat teroptimasi. Berikut adalah beberapa faktor penentu
keberhasilan orgasme dan orgasme berganda yang telah teridentifikasi secara
obyektif melalui serangkaian penelitian :
• Tingkat kenyamanan seorang wanita terkait dengan hubungan atau
komunikasinya dengan suami dan lingkungan sekitar ( suasana rumah, kantor,
atau kondisi keluarga)
• Tingkat attachment atau interaksi yang saling menyayangi antara suami dan
istri yang termanifestasi dalam bentuk-bentuk komunikasi yang sehat.
• Tingkat kebugaran dan energi yang bersangkutan ( tingkat stress dan kelelahan
yang dialami).
• Pengetahuan masalah seksual dan posisi hubungan intim yang dilakukan atau
dipergunakan. Perlu diperhatikan bahwa karakteristik seksual seorang wanita
yang meliputi karakteristik atau ciri khas fisik, fisiologik, dan psikologik sangat
heterogen dan bervariasi. Perbedaan karakter ini dapat maujud dalam bentuk
preferensi seorang wanita dalam melakukan hubungan seksual, misal ada
golongan wanita yang cenderung membutuhkan foreplay atau sesi pendahuluan
sebelum melakukan hubungan badan, ada pula golongan wanita yang justru
enggan berlama-lama dan ingin segera melangsungkan hubungan badan.
Tingkat kepuasan juga bergantung kepada kondisi hormonal seorang wanita,
pada puncak masa ovulasi atau sekitar 14 hari setelah hari haid terakhir,


biasanya kadar hormon seksual seorang wanita berada dalam kondisi puncak.
Di saat itu gairah dan dorongan seksual wanita akan meningkat. Adanya
peningkatan gairah akan berkorelasi dengan semakin besarnya kemungkinan
untuk mencapai tingkat kepuasan. Untuk menyiasati perbedaan waktu
pencapaian orgasme antara pria dan wanita dapat dipertimbangkan penggunaan
beberapa teknik hubungan badan yang bersifat “menahan” laju orgasme
seorang pria dan “mempercepat” laju orgasme seorang wanita. Posisi itu antara
lain adalah modified missionary position, dimana posisi klasik pria di atas dan
wanita di bawah dikembangkan dengan menempatkan kaki dan tungkai seorang
wanita di punggung suaminya. Posisi ini memungkinkan stimulasi pada daerah
klitoris menjadi semakin maksimal, sedangkan jepitan vaginal akan berkurang.
Dampak yang muncul adalah sebagai berikut; stimulasi terhadap alat genital
suami akan berkurang dan stimulasi pada klitoris istri justru akan sangat
meningkat. Posisi lain yang dapat membantu adalah leapfrog alias loncat
kodok, dimana istri berhubungan dalam kondisi setengah berjongkok dan suami
berada di sebelah belakangnya dengan posisi setengah duduk bersandar ( ke
dinding atau bagian kepala tempat tidur). Gerakan aktif dilakukan oleh istri,
posisi istri yang sedemikian akan membuka area genitalnya lebih luas terhadap
stimulasi alat genital suaminya. Gerakan aktif yang dilakukan istri juga akan
membantu dirinya menentukan frekuensi dan daerah-daerah mana yang akan
lebih diekspos. Tetapi hasil penelitian dan fakta di masyarakat menunjukkan
bahwa posisi hubungan seksual yang paling memudahkan seorang wanita
mencapai orgasme adalah posisi cowgirl atau posisi istri di atas suami seperti
seseorang yang tengah menunggang kuda. Ekspos yang maksimal pada daerah
klitoris dan titik G serta dinding vagina, dan peran aktif istri dalam
mengendalikan gerakan serta arah geraknya akan emmfasilitasi pencapaian
orgasme pada seorang wanita.
Penting untuk diketahui bahwa atmosfer psikologis adalah prasyarat utama
dalam menciptakan pola-pola hubungan suami istri yang sehat. Untuk itu dalam
proses mengatasi kesulitan seorang wanita untuk dapat menikmati sebuah hubungan


seksual dan mengoptimalisasi kemampuan seorang wanita untuk mencapai orgasme,
diperlukan pengondisian yang menyenangkan, bebas stress, lingkungan yang
kondusif, serta komunikasi tentang posisi seksual yang lebih diinginkan dan lebih
dapat dinikmati oleh seorang wanita. Apabila pasangan suami-istri berhasil
mengembangkan atmosfer psikologis semacam ini, tidak mustahil istri bahkan bisa
mencapai orgasme berganda. Karakter orgasme berganda atau multiple orgasm pada
seorang wanita secara umum dikategorikan menjadi 2 jenis utama, yaitu:
1. Sequential Multiples atau Berganda Berurutan
• Suatu seri pencapaian klimaks atau orgasme yang terjadi secara berdekatan satu
sama lainnya dan terpisah waktu yang relatif singkat, antara 2 sampai 1o menit.
Ada interupsi rangsangan seksual di antara kedua fase orgasme, misal diselingi
beristirahat sejenak. Contoh yang dapat dilihat pada kondisi nyata adalah
orgasme yang terjadi pada saat suami-istri masih dalam tahapan pra-koitus (
foreplay) dan merangsang daerah klitoris wanita hingga tercapai orgasme
sebelum terjadinya hubungan pervagina. Apabila setelah klimaks yang pertama
itu kemudian pasangan suami-istri melanjutkan ke tahap hubungan pervagina
dan tercapai lagi orgasme, inilah yang disebut orgasme berganda berurutan
(OBB).
2. Serial Multiples atau Berganda Serial
Tipe orgasme wanita ini terjadi dalam kurun waktu tertentu dan seolah-olah tidak
terputus, alias sambungmenyambung. Untuk mencapai kondisi orgasme serial
dibutuhkan teknik arousal dan posisi hubungan seksual yang tepat dan mampu
mengeksplorasi setiap titik sensitif di organ genitalia wanita. Maka ciri dari
Orgasme Berganda Serial (OBS) adalah sebagai berikut:
• Orgasme tercapai dan berlangsung beberapa kali sekaligus tanpa interupsi
dalam proses hubungan seksual.
• Selama proses hubungan seksual seluruh titik sensoris yang kaya persyarafan
terstimulasi secara adekuat dan tepat. Tipe orgasme ini baru dapat tercapai




apabila rangsangan diterima secara merata oleh klitoris, G-spot, dan dinding
vagina 1/3 bagian terluar.
Hasil survey majalah Jane edisi Juni-Juli 2004 pada 2137 responden yang
dilakukan secara on-line menunjukkan pola orgasme pada wanita sebagai
berikut:
1. Mencapai orgasme setiap kali melakukan hubungan suami-istri (43%)
2. Mencapai orgasme pada beberapa kali hubungan tetapi tidak setiap kali (38%)
3. Belum pernah merasakan sama sekali (19%)
Ternyata meski di atas kita telah membahas secara panjang lebar berbagai kiat
untuk mengoptimalkan fungsi seksual dari seorang wanita, baik dari aspek fisiologis
maupun psikologis, fakta menunjukkan bahwa mencapai kepuasan seksual ternyata tetap
menajdi kendala bagi sebagian wanita. Untuk itu rupanya perlu dipelajari secara lebih
mendalam proses fisiologi orgasme wanita dan hal-hal apa saja yang terjadi ketika proses
tersebut berlangsung. Tak lain dan tak bukan pengetahuan yang mendasar ini
dimaksudkan agar setiap wanita dapat lebih mengenal potensi dirinya.


3 variasi respon seksual pada seorang wanita menurut Masters dan Johnson dalam buku
Sex and Human Loving, 1982: Pola pertama menunjukkan respon dan karakter orgasme





berganda (multiple orgasm), pola kedua menunjukkan respon berupa pencapaian
tahapan plateau tanpa mencapai puncak orgasme, dan pola ketiga menunjukkan kurva
yang langsung anjlok menuju fase resolusi setelah fase eksitasi (excitement).

Gambar siklus respon seksual wanita yang memperlihatkan perubahan pada organ-
organ reproduksi dan genital seorang wanita selama menjalani proses hubungan
seksual.

Tahapan Perangsangan
Fase arousal ditandai dengan aktifnya proses perangsangan yang dilakukan oleh
suami dan istri. Pada kondisi ini terjadi perubahan pada tubuh wanita sebagai
berikut:
• Lubrikasi atau pelumuran cairan vagina terjadi di 10-30 detik awal hubungan.
• 2/3 bagian dalam vagina mengembang.
• Rahim dan leher rahim tertarik ke atas depan.
• Labium mayora atau bibir luar kemaluan mendatar dan membuka.
• Labium minora akan membesar.


• Klitoris membesar.
• Putting susu akan berdiri dan otot sekitar payudara akan berkontraksi.
• Ketika intensitas rangsangan seksual semakin meningkat payudara akan
membesar.
Tahapan Plateau
Selama fase plateau terjadi perubahan anatomi pada wanita sebagai berikut:
• Meningkatnya ketegangan seksual.
• Terjadi pelebaran dan penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan
sepertiga bagian dalam vagina seolah membengkak dan menyempit sampai 30%.
• Dua pertiga bagian dalam vagina seolah kosong dan wanita biasanya merasakan
keinginan yang kuat agar dirinya “diisi” sering disebut sebagai fenomena “vaginal
ache”.
• Klitoris semakin bertambah besar dan semakin tegang dan posisinya semakin
mendekati tulang kemaluan ( os pubis) sehingga lebih mudah terpapar secara
fisik.
• Labium minora atau bibir kemaluan sebelah dalam akan menebal 2-3 kali ukuran
normal.
• Peningkatan ukuran labium minora akan berdampak pada perubahan ukuran
labium mayora.
• Warna bibir kemaluan sebelah dalam akan berubah dari yang semula merah
jambon menjadi merah tua karena meningkatnya aliran darah ke daerah tersebut
(vaskularisasi).
• Areola atau daerah kecoklatan di sekitar putting payudara akan membengkak/
membesar.
• Payudara sendiri akan membesar sekitar 20-25%
• 50-70% wanita akan mengalami "sex flush"/ruam kemerahan pada daerah dada
dan bagian tubuh lainnya sebagai konsekuensi dari meningkatnya aliran darah di
permukaan kulit.
• Detak jantung meningkat cepat, laju pernafasanpun bertambah.


• Terjadi peningkatan kontraksi otot di daerah paha dan bagian bokong.
• Tubuh wanita pada saat ini sudah siap untuk mengalami fase orgasme.
Tahapan Orgasme
Selama fase orgasme wanita mengalami hal-hal sebagai berikut :
• Terjadi kontraksi otot secara ritmik dan di luar kendali kesadaran, di daerah
vagina, rahim, dan rektum atau anus. Kontraksi pertama berlangsung sangat hebat
dan kontraksi berikutnya lebih lemah serta berjeda sekitar 0,8 detik. Pada orgamse
yang hebat terjadi sekurangnya 10 sampai 15 kali kontraksi ritmik otot, sedangkan
pada orgasme tingkat sedang (mild) terjadi sekitar 3 sampai 5 kali kontraksi.
• Ruam kemerahan, rasa panas yang menjalar serta desah nefas akan lebih terlihat
dan terdengar nyata.
• Otot-otot tubuh lainya juga akan turut berkontraksi menyertai kontraksi otot-otot
panggul.
• Pola otak selama orgasme berlangsung juga menunjukkan adanya karakteristik
unik pada gelombang otak.
• Pada beberapa wanita terjadi produksi cairan yang sering dikaitkan dengan
fenomena ejakulasi wanita. Cairan ini sesungguhnyan berasal dari uretra dan
kelenjar lubrikasi ( cairan pelicin).
• Terjadi miotonia atau peningkatan tonus otot di daerah wajah dan beberapa otot
lainnya sehingga seorang wanita akan menunjukkan ekspresi wajah yang khas
pada saat mengalami orgasme. Ekspresi wajah itu seperti seseorang yang
menyeringai karena teramat sakit dan bahkan acapkali disertai lenguhan khas, dan
pada beberapa wanita yang mengalami orgasme hebat mereka sampai terisak-isak
seperti orang yang menangis. Miotonia pada daerah tangan biasanya akan
berimplikasi pada kegiatan mencengkeram atau mencakar tubuh suami.
Tahapan Resolusi
Selama fase resolusi seorang wanita dapat mengalami hal-hal sebagai berikut :


• Jika rangsangan seksual dilanjutkan maka dapat saja wanita tersebut akan kembali
mengalami orgasme tambahan
• Kondisi vagina akan kembali kepada ukuran dan keadaan normal, terelaksasi.
• Payudara, labium vagina, klitoris, dan rahim juga akan kembali kepada ukuran,
posisi, dan warna semula.
• Klitoris dam puting susu akan menjadi lebih sensitif dan adanya rangsangan ke
daerah tersebut akan menimbulkan rasa geli atau tidak menyenangkan.
• Seks Flush atau ruam kemerahan di wajah akan menghilang.
• Wanita akan berkeringat dan nafasnya memburu, tingkat respirasi menjadi lebih
tinggi.
• Jantung akan berdegup lebih kencang selama beberapa lama.
Jika orgasme tidak tercapai, maka gejala di atas tetap dapat dialami hanya saja
berintensitas lebih rendah. Adanya akumulasi darah di daerah pelvis atau pinggul akibat
proses pelebaran pembuluh darah lokal selama terjadinya rangsang seksual akan
mengakibatkan munculnya rasa “berat” dan tidak nyaman di daerah panggul. Kondisi
inilah yang mungkin kemudian akan menyulut ketidakpuasan secara psikologis dan
mengubah mood seorang wanita. Maka wanita yang gagal mencapai orgasme dalam
sebuah hubungan suami-istri lambat laun dalam jangka panjang akan mengembangkan
tipe kepribadian tersendiri dengan manifestasi pada perilaku hariannya yang lebih
mengedepankan kekecewaan, kecemasan, dan kegelisahan.
Keberhasilan sebuah rumah tangga dalam mengoptimasikan hubungan suami-istri
sebagai ikhtiar melanggengkan cinta yang berorientasi ibadah, akan mendorong
terekspresikannya segmen DNA yang terkait dengan pembentukan sirkuit produktif di
otak seorang wanita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar